Beranda HEADLINE Demo Tidak Ditanggapi Bupati Mian, Serbu Lukai Hati Wartawan

Demo Tidak Ditanggapi Bupati Mian, Serbu Lukai Hati Wartawan

224
BERBAGI

BENGKULU UTARA.KABARDAERAH.COM – Aksi Demo Serikat Rakyat Bengkulu Utara, Senin (1/10/2018) menyampaikan aspirasi dan tuntutan kepada Bupati Ir. Mian tidak membawakan hasil yang diinginkan. Sama hal yang dilakukan mahasiswa Unras  sebelumnya  turun ke jalan dengan tuntutan yang sama tidak ada tanggapan sama sekali. Malah sebaliknya, orasi yang dismapikan dalam aksi Serbu telah menodai serta melukai para wartawan yang tengah meliput.

Orasi yang disampaikan Mahasiswa Unras tidak mencerminkan etika seorang mahasiswa yang baik. Dengan laggak dan kesombongan dimuka umum menyampaikan bahwa media tidak independen dalam memberitakan. Terdengar apa yang disampaikan orator, media sudah masuk angin. “Kemana kalian, kenapa diam”. Pernyataan yang demikian, jelas-jelas telah melukai hati para wartawan, baik media cetak, elektronik maupun online.

Dengan sikap dan pernyataan yang disampaikan dalam orasi, semua wartawan yang meliput terpaksa menjauhi dari kumpulan peserta demo.

Pernyataan sikap tidak terpuji yang disampaikan orator dalam aksi kedua tersebut, Meneger Media Inibengkulu.com, Fauzi Yanto  menyampaikan sikap dan pengalamnnya bahwa Sejak zaman perjuangan hingga masa milenial, pers/wartawan selalu  berpihak kpd kebenaran memperjuangkan rakyat demi kemajuan bangsa. Perusahaan media dgn profesi pers dua hal yg berbeda. Bisa jadi, ada pemilik media berpihak pada kepentingan pribadi, golongan atau organisasi tertentu. Tp wartawan (dalam arti yg sesungguhnya) dalam menjalankan profesi akan selalu berpegang teguh pada kode etik jurnalistik. (Tak heran banyak wartawan yg keluar dr media tempat mereka bernaung krn merasa media tempat mereka menjalankan profesi sudah tidak berpihak lagi  pada kebenaran .

Dalam menulis, wartawan memiliki kebebasan mengangkat angle (sudut pandang) masing-masing. Artinya tidak semua yg terjadi harus ditulis semua. Ingat, wartawan bukan HUMAS. Wartawan dalam menulis berita juga dituntut Berimbang (cover both side). Kedua belah pihak mempunyai hak yg sama untuk mengutarakan pendapat. Tidak bisa salah satu pihak memaksakan pendapatnya sendiri untuk ditulis.

Jadi, menuding profesi pers “masuk angin”, Tidak Independen, apapun namanya, apalagi d forum terbuka, rasanya kurang tepat.

“Kami insan pers tidak tersinggung, tapi kami TERLUKA mari saling menghargai profesi masing-masing. Yg aksi silahkan aksi, yg meliput biarkan mereka menjalankan profesinya. Jgn saling sikut, jgn saling tuding krn kita berada di barisan perjuangan yangg sama”    (Red)

loading...